TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL
Friday, 31 October 2008
Sabtu (18/10), Institut PTIQ Jakarta menyelenggarkan studium General dalam rangka Kuliah Perdana tahun akademik 2008-2009. Rektor PTIQ, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar membuka secara resmi kuliah perdana yang diikuti oleh 292 orang Mahasiswa Baru yang terdiri dari program strata I dan II. Jumlah mahasiswa baru menjadi membengkak dengan dibukanya Program Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA) yang mencatat 74 mahasiswa-mahasiswi. Kuliah kali ini dengan tema “Pendidikan Al-Quran dan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Global”, disampaikan oleh Prof. Dr. H. Moh Ali, MA, Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI.
Moh Ali mengawali penyampaian materi dengan menjelaskan pengertian pendidikan yang dalam Bahasa Arab terdiri dari kata Tarbiyah (pendidikan/pemeliharaan), Ta’dib (Pendidikan moral/sopan santun/etika), dan Ta’lim (pengajaran). Dalam konteks masyarakat atau bangsa pendidikan merupakan proses pewarisan atau pelestarian budaya yang terkait masa depannya (futuristic).
Lantas tentang tujuan pendidikan, menurutnya hal ini hendaklah dilihat dari dua perspektif.
Pertama, perspektif global. Tujuan pendidikan hendaklah dapat memberi bekal pengembangan diri di era global. Selain itu juga keterampilan kerja (teknikal Skill) dan tak lupa jati diri sebagai bangsa Indonesia, kewarganegaraan, juga dalam arti bagaimana bangsa Indonesia melakukan transmisi budaya.
Kedua, perspektif Nasional. Hendaknya peserta didik atau generasi muda nantinya memiliki kecerdasan Intelektual, Emosional dan Spiritual di samping sehat dan berakhlak mulia. Selain itu ia juga harus terampil, kreatif dan mandiri serta demokratis dan bertanggungjawab.
Tantangan Pendidikan
Selain pengertian dan tujuan pendidikan, Moh Ali juga mengungkap tantangan pendidikan di masa sekarang dan yang akan datang. Hal ini jelas seperti yang kita rasakan saat ini bagaimana perubahan terjadi begitu cepat. Kemajuan di berbagai bidang terutama teknologi dan komunikasi memacu perubahan gaya hidup yang membuat dunia begitu sempit tanpa batas. Budaya manusia di pelosok manapun kini terbuka untuk berubah mengikuti budaya global yang mendominasi dunia. Tantangan lain yang cukup serius adalah timbulnya konflik dan krisis sehingga terjadi pula gap, yaitu kuat versus lemah, kaya versus miskin, penindas dan tertindas, dan lainnya.
Demikian pula ancaman terhadap planet dan lingkungan hidup akibat limbah dan polusi industry. Belum lagi problema sosial terkait kemiskinan, kejahatan dan terorisme, kriminalitas dan sebagainya.
Menghadapi berbagai masalah tersebut perlu dirumuskan arah pendidikan yang benar-benar membekali generasi muda untuk mampu memecahkannya. Dan di samping itu perlu disiapkan program pelaksanaan pendidikan yang yang berkualitas dan kompetitif menghadapi era globalisasi. Yang memprihatinkan lagi bahwa peringkat pendidikan Indonesia kini jauh berada di bawah Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Al-Qur'an landasan Peradaban
Akhirnya, Moh Ali menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran penting untuk menjawab dinamika Sains (ilmu pengetahuan) baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Bukankah di dalam Al-Quran banyak disinggung tentang sains dan teknologi? Kata 'ilm dengan segala bentuknya disebut sebayak 780 kali dalam al-Qur'an, dan tak kurang dari 750 ayat al-Qur'an yang menyinggung aspek sains, begitu ungkap pakar pendidikan dari UPI Bandung yang kini bertanggung-jawab mengomandani pendidikan Islam di Indonesia itu. Diapun melanjutkan, bukankah pula praktek dari isi kandungan Al-Quran ini pernah melahirkan peradaban Islam yang agung?
Terkait peran kaum muslimin dalam peradaban manusia, Moh Ali menggambarkan betapa kaum muslimin masa lalu menghadirkan Al-Quran sebagai tata nilai (moral), etos juga konsep peradaban yang menjiwai Sains dan teknologi. Ia menyebutkan peran penting Al-Kindi sebagai seorang filosof agung, Ar-Razi yang seorang dokter, Al-Khawarizmi, Al-Battani, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Ghazali dan lain-lain.
Ketekunan mereka dalam dunia pengetahuan (Sains) membuahkan peradaban agung yang oleh kaum muslimin saat ini mereka dikenang sebagai kebanggaan bukan sebagai motivasi meraih kehidupan di dunia yang lebih baik. Dalam melihat peran dan prestasi mereka mestinya bisa diambil nilai positif sebagai generasi yang bermanfaat bagi manusia (Anfa’uhum Linnas), semangat belajar, meneliti untuk melakukan penemuan-penemuan serta selalu berorientasi ke masa depan. Lebih dari itu semua, harus disadari bahwa hidup dan kehidupan adalah untuk mengabdi (ibadah) kepada Dzat Maha Kuasa. Inilah visi misi kita dalam memaknai pendidikan, demikian Dirjen Moh Ali mengakhiri ceramahnya.
Di akhir kuliah, moderator, Dr. H. Husnul Hakim, menegaskan kembali bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah membangun manusia untuk bermanfaat bagi kehidupan terutama di masa yang akan datang. Terkait dengan Institut PTIQ, pertanyaannya adalah bagaimana kita menghadirkan pesan Al-Quran yang mengandung visi-missi pembentukan manusia sebagai khalifatullah fil-ardh untuk membangun peradaban dunia? Semua itu, lanjutnya, bermula dan bertumpu pada dunia pendidikan.
Kuliah di Aula Lantai 4 Kampus Institut PTIQ di Jl. Batan Pasar Jum'at Lebak bulus dihadiri oleh mahasiswa baru, para pimpinan dan dosen PTIQ Jakarta. Setelah acara Kuliah Perdana usai, dilanjutkan dengan halal bi-halal dan pertemuan dosen untuk mempersiapkan perkuliahan-perkuliahan sebagaimana lazim di setiap awal masa perkuliahan (f*) PTIQ
Sunday, 25 January 2009
KUliah
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment